Agribisnis Konvensional vs Agribisnis Syariah

Pada kuliah perdana saya di program studi manajemen Agribisnis Pasca Sarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, mata kuliah Agribisnis Syariah oleh Dr. Maman, Kh, MSc saya memperoleh pelajaran yang luar biasa. Pada kulih perdana ini dibahas seputar Agribisnis dalam analisis konsepsi neoliberal, atau pada tulisan ini saya sebut Agribisnis Konvensional. Kenapa kemudian saya sampaikan istilah Agribisnis Konvensional? Argumentasinya adalah apa yang disampaikan oleh pak maman adalah adanya perubahan paradigma dalam memandang Agribisnis.

Maksudnya adalah Agribisnis yang menjadi kajian selama ini selalu dipandang dari kacamata Neoliberal atau kapitalisme saja, sehingga saya katakan Agribisnis Konvensional. Sebagaimana adanya istilah Bank konvensional dan Bank Syariah, Agribisnis Syariah merupakan anti tesis dari Agribisnis Konvensional. Dalam persfektif Syariah Islam, tentunya pengelolaan Agribisnis akan berbeda dengan cara-cara yang dilakukan oleh neoliberal. Oleh karena itu, sangat menarik jika kita kaji perbedaan diantara keduanya. Namun pada tulisan ini saya hanya ingin menyampaikan Agribisnis konvensional dalam persfektif neoliberal. Nantikan tulisan berikutnya, saya akan jelaskan konsepsi Agribisnis Syariah.
Secara harfiah Agribisnis berasal dari kata Agri dan Bisnis, yang berarti segala kegiatan usaha produktif disektor pertanian, atau sektor-sektor yang terkait dan menopang pertanian. Agribisnis merupakan pengembangan (modernisasi) dari kegiatan pertanian yang bersifat subsistence, yakni kegiatan bertani yang hanya untuk memenuhi kebutuhan keluarga/sendiri atau tidak berorientasi komersil. Sebelum adanya istilah Agribisnis, dulu kala masyarakat tradisional kegiatan dibidang pertaniannya masih bersifat pertanian subsistence. Sementara pertanian yang berorientasi pada pasar merupakan ciri-ciri masyarakat modern. Istilah Agribisnis di Indonesia diperkenalkan pada tahun 1980-an sebagai upaya untuk merombak pola bertani tradisional menjadi pertanian modern yang berorientasi pasar dan mengadopsi pola-pola manajemen modern. Diantaranya tokoh yang berjasa dalam mengembangkan pemikiran Agribisnis ini adalah Prof. Dr. Bungaran saragih, dosen Institut Pertanian Bogor.
Dalam buku said dan intan (2000), Agribisnis merupakan sistem yang menopang ekonomi nasional (PDB, kesempatan berusaha dan pertumbuhan ekonomi). Agribisnis sebagai sistem ini, dipandang dari pendekatan makro. Sistem mengandung arti pola pengaturan komunitas dan masyarakat, seperti sistem sosial, sistem ekonomi, sistem politik, sistem komunikasi dll. Sistem seringkali dibangun berdasarkan kesepakatan-kesepakatan (atau karena tekanan), baik tertulis maupun tidak tertulis. Kesepakatan atau tekanan seringkali merupakan perwujudan dari sebuah idiologi seperti kapitalisme dan sosialisme. Oleh karena itu, dalam pendekatan makro ini, ternyata adanya perbedaan dalam pengaturan Agribisnis. Syariah Islam memiliki persfektif yang berbeda dalam pengaturan Agribisnis. Walaupun Agribisnis ini merupakan sebuah produk sains yang sifatnya universal dan bebas nilai, tetap saja dalam tata kelola dan pengaturannya sangat berbeda. Dalam konteks ini saya menyebut Agribisnis konvesional sebagai istilah untuk sistem Agribinis dalam kacamata neoliberal. Buktinya adalah banyak sekali kebijakan disektor pertanian baik dalam bentuk undang-undang maupun peraturan pemerintah yang lahir dari persfektif neoliberal.
Sementara dari pendekatan mikro, menurut said dan intan (2000) Agribisnis dipandang sebagai sebuah kegiatan usaha disektor pertanian dan faktor-faktor pendukungnya, seperti agribisnis sapi potong, agribisnis semangka, kegiatan usaha penyaluran pupuk dll. Agribisnis mikro merupakan kegiatan usaha dalam sub sistem Agribisnis. Saat ini agribisnis mikro sangat populer bahkan memasuki kegiatan usaha kecil dan menengah (UKM). Melalui pendekatan ini sebenarnya, kegiatan agribisnis lebih pada kegiatan teknis dan operasional. Walaupun demikian, Agribisnis mikro tidak lepas dari Agribisnis makro, karena keduanya saling berhubungan satu sama lain. Berdasarkan hal ini, istilah Agribisnis Makro kita sebut Agrobisnis, sedangkan Agribisnis Mikro kita sebut Agribisnis. Semoga saja lahirnya istilah keduanya ini bisa menjadi kesepakatan dikalangan akademisi dalam mengembangkan Agribisnis baik sebagai sebuah sistem maupun sub-sistem.
Agribisnis berbasis komunitas mengembangkan bentuk-bentuk kemitraan antara pengusaha besar dan para petani. Tapi harus dikritisi karena pola kemitraan ini seringkali menguntungkan pengusaha/pemilik modal dari pada membantu petani. Pola kemitraan seringkali hanya menjadikan petani sebagai pekerja pada lahannya sendiri. Diantara peneliti dari Institut Pertanian Bogor (IPB), yang mengemukakan istilah Agribisnis berbasis komunitas ini adalah Rahmat Pambudy. Pola kemitraan yang melahirkan kesenjangan sosial antara petani dan pengusaha ini disebabkan karena paradigma kapitalisme dan neoliberal. Akhirnya yang terjadi dominasi para pemilik modal terhadap petani-petani kecil. Para petani kemudian hanyalah menjadi buruh dalam sistem Agribisnis. Dengan demikian, cita-cita mulia menggeser petani sub-sisten menjadi petani Agribinis hanya sekedar retorika. Hal ini wajar, karena dalam persfektif neoliberal penguasaan sumber daya hanya dimiliki para pemilik modal.
Jika kita menelusuri sejarah neoliberal, ternyata gagasan neoliberal lahir pada abad 19. Ciri-ciri neoliberal diantaranya : mendorong deregulasi dan campur tangan; mendorong pasar bebas dan perdagangan bebas; berusaha menghilangkan hambatan dalam perdagangan internasional dan investasi, baik hambatan tarif maupun non tarif; mengurangi subsidi bagi pelayanan publik sampai batas sangat minimal bahkan sampai nol; membuka pasar luar negeri atas nama kebebasan pasar, investasi, dan perdagangan luar negeri; meningkatkan peran swasta (privatisasi), baik disektor barang dan jasa maupun sektor keuangan. Neoliberal sebenarnya metamorfosis dari liberalisme klasik. Ajaran liberalisme klasik diantaranya menggap bahwam manusia itu sebagai homo economicus (makhluk ekonomi). Manusia adalah otonom, diberikan kebebasan untuk memilih. Dalam ranah politik, liberalisme bertujuan untuk mencapai sosial demokrat yaitu kesejahteraan. Liberalisme klasik dan neoliberal sama-sama meletakan kebebasan dalam nilai politik tertinggi. Bedanya dalam liberalisme klasik, masih mengakui peran pemerintah sebagai pelindung hak-hak semua rakyat secara adilm bijak dan seksama. Masih mengakui undang-undang pemerintah, artinya semua rakyat mempunyai hak-hak yang sama rata didepan hukum dan undang-undang. Menghendaki peran serta negara dalam pasar bebas dan menjaga agar tidak terjadi deskriminasi, pemeriksaan barang-barang ekspor-impor harus dilakukan secara hikmat.
Berbeda dengan liberalisme klasik, neoliberal menjadikan homo economicus sebagai prinsip untuk memahami semua tingkah laku manusia. Hal ini dimodifikasi kearah yang lebih ekstrem, tidak perlu adanya campur tangan pemerintah dan batas negara diterobos. Dalam wacana poltik sosial ekonomi dengan melakukan privatisasi seluruh kegiatan ekonomi. Neoliberal menghendaki segala macam fasilitas umum diserahkan ke sektor swasta. Selain itu, neoliberal tidak menghendaki adanya sistem aturan, undang-undang/hukum. Selain itu juga, tidak menghendaki pemerintah berperan dalam pasar bebas. Pemerintah posisinya hanya menjamin kebebasan pasar terlaksana. Berdasarkan uraian ini, maka sebenarnya liberalisme klasik dan neoliberal memiliki persamaan, diantaranya : mengutamakan kebebasan individu; menghendaki dibatasinya kekuasaan pemerintahan; kebebasan untuk menjalankan perusahaan tanpa adanya aturan yang menghambat; adanya desentralisasi; dan sama-sama menolak kekuasaan yang otoriter yang mengekang kebebasan individu.
Dari sisi konsepsi, baik liberalisme maupun neoliberal seolah-olah memberikan angin segar bagi kemajuan. Tetapi pada prakteknya telah menimbulkan berbagai macam kesenjangan sosial dan kerusakan. Dampak neoliberal diantaranya : adanya ancaman bagi industri lokal, terutama bagi petani akibat banjirnya produk import; adanya ancaman bagi tenaga kerja lokal terutama ketika pemerintah tidak berhak ikut campur tangan dalam penentuan upah; privatisasi ekonomi mengakibatkan kenaikan harga, hilangnya pelayanan, dan munculnya komersialisasi layanan umum; konsumen tak terlindungi dari produk-produk yang tak layak dikonsumsi; seluruh kehidupan adalah ‘komoditi’ sebagai sumber laba korporasi perusahaan; semua pemikiran diluar rel pasar dianggap salah; dan semakin lebarnya jurang antara sikaya dan si miskin. Dalam sektor pertanian dampaknya adalah : hilangnya subsidi saprotan seperti pupuk; komoditas lokal kalah bersaing dengan produk impor; berkurangnya daya beli petani karena pencabutan/penguarangan subsidi dalam semua sektor; serta masuknya investasi asing dalam sektor pertanian. Akhirnya petani lokal terlindas oleh pengusaha besar dan pengusaha multinasional.
Gagasan neoliberal berkembang di Amerika Serikat pada masa presiden Ronald Reagen, atau biasa disebut Reaganomic. Namun seperti yang dilansir dalam buku the End of free Market, Ian Bremmer seorang pemikir asal AS, menurutnya AS tidak mengembangkan ekonomi neoliberal. AS menerapkan kapitalisme negara, misalnya pada krisis yang terjadi baru-baru ini justru AS berusaha memperkuat perusahaan-perusahaan tertentu agar bertahan dan memiliki kemampuan daya saing. AS hanya menjadikan neoliberal ini sebagai alat untuk menguasai SDA negara-negara lain. Dalam hal ini AS melakukan standar ganda, pada satu sisi AS selalu mengkampanyekan dan mengeksport neoliberal ini ke negara-negara lain, tapi dalam sisi lain AS justru tidak melaksanakan kaidah-kaidah neoliberalisme. Pemerintahan AS justru melakukan campur tangan dalam ekonomi pasar. Diantaranya di AS tidak berlaku privatisasi dan penjualan asset ke negara-negara lain. Dalam hal ini jelas sekali bahwa AS hanya menjadikan neoliberal sebagai alat penjajahan gaya baru, dengan IMF sebagai motor penjajahan tersebut. Jika demikian, sudah saatnya kita mencari alternatif dan paradigma baru dalam mengatur sistem Agrobisnis. Agrobisnis Syariah sudah sangat relevan menjawab tantangan jaman saat ini. Nantikan artikel berikutnya terkait dengan Agribisnis Syariah.

 

entissomantri.wordpress.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest

X