“Kebun Al-Quran” Sangat Mungkin Tumbuh dan Berkembang di Indonesia

Hidayatullah.com–Tanaman-tanaman yang disebutkan secara spesifik dalam Al-Quran, seperti kurma, zaitun, tin atau delima sangat mungkin tumbuh dan dikembangkan di Indonesia, ini dikarenakan tanaman ini mempunyai rentang hidup pada suhu 4-40 derajat Celsius.  Demikian diungkapkan oleh owner Jonggol Farm Muhaimin Iqbal.

“Tanaman-tanaman yang spesifik disebutkan dalam Al-Quran, setelah kita teliti secara ilmiah ternyata mempunyai rentang kehidupan yang sangat panjang,” demikian ujarnya saat menjadi narasumber di acara “Seminar Potensi dan Peluang Kebun Al-Quran” di Auditorium Fakultas Hukum Universitas Islam Riau (UIR) Pekanbaru pada Sabtu, 8 Maret 2014.

“Seperti kurma misalnya, mempunyai rentang hidup dan tumbuh di suhu antara 4-40 derajat Celsius, di bawah 4 dan diatas 40 derajat Celsius berhenti tumbuh tapi masih hidup. Itu karakter kurma. Suhu di Riau misalnya 30-an, lingkungan yang sempurna untuk tumbuh kurma,” ungkapnya.

Meskipun demikian, lanjut Muhaimin Iqbal, masih banyak para praktisi dan akademisi yang meragukan hasil penelitian ini.

“Banyak teman-teman saya kuliah di pertanian. Sekarang banyak di antara mereka yang sudah menjadi profesor, dekan bahkan rektor. Kalau kita sampaikan tentang “Kebun Al-Quran” awalnya saya ditertawakan, karena menurut mereka tanaman-tanaman itu harus menyesuaikan alam setempat,” ujar pria yang juga kolumnis Illahiyah Finance di hidayatullah.com ini.

Namun demikian Muhaimin menjelaskan bahwa tumbuhan yang saat ini ada di Indonesia juga banyak yang bukan berasal dari Indonesia, melainkan dari Afrika Barat yang dibawa dan dikembangkan oleh Belanda ketika menjajah Indonesia, seperti kelapa sawit dan teh.

“Sawit dibawa Belanda hanya 4 butir dulu dari Afrika Barat, Guinea. Lha kok bisa berkembang? Karena yang ngajarin Belanda, kita percaya karena dulu kita terjajah. Apa-apa yang disampaikan Belanda kita hormati karena Belanja menjajah kita. Teh yang sekarang jadi minuman kita sehari-hari, apa tanaman kita? Tidak. Dibawa oleh Belanda abad ke 17,” ujarnya.

“Nah, sekarang kita diajari oleh yang Maha Tahu, ilmu yang pasti benarnya. Tapi kita anggap bukan untuk kita,” jelas beliau.
Ditambahkan oleh Muhaimin bahwa kunci keberhasilan agar tanaman-tanaman Al-Quran berkembang di Indonesia adalah keyakinan terhadap Al-Quran.

“Kuncinya adalah kita yakin. Yakin dulu sehingga kita mau mengikuti. Karena kalau kita tidak yakin, kita menolak dulu.”
Hal serupa juga diungkapkan oleh Dr. Musthafa Umar, Lc. MA, pakar tafsir Riau.

“Kita melihat di sini ada kebenaran. Kita tinggal mengikutinya. Dan kebenaran tidak akan mendatangkan manfaat apabila tidak mengikutinya. Dan ketika kita mengikutinya kita akan merasakan betapa Allah Subhanahu Wata’ala dengan kasih sayang-Nya untuk melindungi, menolong, menyelamatkan dan menghantarkan kita kepada baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur,” ujar pembina Tafaqquh Study Club ini.

Seminar “Potensi dan Peluang Kebun Al-Quran” ditaja oleh Universitas Islam Riau bekerjasama dengan Tafaqquh Study Club dan Geraidinar.com.

Acara ini akan dilanjutkan dengan Tabligh Akbar Ekonomi Islam di aula Masjid Agung An-Nuur Provinsi Riau keesokan harinya, Ahad, (09/03/2014).*/Muhammad Hidayat (Riau)

Rep: Admin Hidcom

Editor: Cholis Akbar

23 total views, 2 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest

X